Tata Cara Umroh Sesuai Sunnah dari Niat hingga Tahallul
Tata Cara Umroh Sesuai Sunnah: Panduan Lengkap dari Niat hingga Tahallul
Umroh yang sah dan mabrur dimulai dari pemahaman yang benar tentang setiap rukunnya. Bukan sekadar tahu urutannya, tapi memahami mengapa setiap langkah itu dilakukan dan bagaimana melaksanakannya sesuai sunnah Rasulullah ﷺ. Panduan ini menyusun seluruh tata cara umroh secara berurutan — dari persiapan di miqat hingga tahallul — lengkap dengan bacaan Arab, latin, dan artinya.
1. Dasar hukum dan rukun umroh
Sebelum membahas tata cara, penting untuk memahami fondasi hukum dan struktur ibadah umroh agar setiap langkah dilakukan dengan keyakinan yang benar.
Hukum umroh
Para ulama berbeda pendapat dalam dua pendapat utama:
- Wajib sekali seumur hidup — pendapat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad. Dalilnya adalah firman Allah: "Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh karena Allah." (QS. Al-Baqarah: 196)
- Sunnah muakkad — pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, berdasarkan hadits yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menjawab pertanyaan tentang umroh dengan: "Haji adalah wajib, sedangkan umroh adalah sunnah bagi kalian." (HR. Tirmidzi)
Mayoritas jamaah Indonesia mengikuti mazhab Syafi'i yang mewajibkan umroh sekali seumur hidup bagi yang mampu.
Rukun umroh — wajib dilakukan berurutan
| Urutan | Rukun | Jika Ditinggalkan |
|---|---|---|
| 1 | Ihram (niat) | Umroh tidak sah, wajib diulang |
| 2 | Tawaf | Umroh tidak sah, wajib diulang |
| 3 | Sa'i | Umroh tidak sah, wajib diulang |
| 4 | Tahallul | Umroh tidak sah, tetap dalam kondisi ihram |
| 5 | Tertib (berurutan) | Umroh tidak sah jika urutan dilanggar |
Wajib umroh — jika ditinggalkan, wajib dam
Berbeda dari rukun, wajib umroh hanya satu: berniat ihram dari miqat. Jika jamaah melewati miqat tanpa berihram dan baru niat di dalam Makkah, umroh tetap sah tapi wajib membayar dam (menyembelih kambing).
2. Persiapan sebelum miqat
Kesempurnaan ibadah dimulai jauh sebelum tiba di miqat. Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa persiapan yang disunnahkan sebelum berihram:
Disunnahkan mandi besar sebelum berihram, baik dalam keadaan suci maupun tidak — termasuk bagi wanita yang sedang haid atau nifas. Mandi ihram bukan untuk bersuci dari hadats, tapi sebagai bentuk kebersihan dan kesiapan memasuki kondisi ihram.
Rasulullah ﷺ memakai wewangian sebelum berihram. Ini adalah sunnah yang dilakukan sebelum niat — setelah niat ihram diucapkan, wewangian dilarang. Oleskan di tubuh, bukan di kain ihram.
Untuk pria: dua lembar kain putih tanpa jahitan — satu untuk bawah (izar), satu untuk atas (rida'). Tidak boleh memakai baju berjahit, celana, topi, atau sepatu yang menutup mata kaki dan jari kaki.
Untuk wanita: pakaian muslim biasa yang menutup seluruh aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Tidak boleh memakai cadar (yang menutupi wajah) dan sarung tangan saat berihram.
Dilakukan sebelum mengucapkan niat. Rakaat pertama membaca Al-Kafirun, rakaat kedua membaca Al-Ikhlas. Jika bertepatan dengan waktu yang dilarang shalat, cukup lewati langkah ini.
3. Ihram — niat memasuki kondisi suci
Ihram adalah rukun pertama umroh. Ihram bukan sekadar memakai pakaian putih — ini adalah pernyataan niat memasuki kondisi ibadah yang penuh aturan dan larangan.
Lafaz niat ihram umroh
نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitul 'umrata wa ahramtu bihā lillāhi ta'ālā.
Artinya: "Aku niat umroh dan berihram karenanya, karena Allah Ta'ala."
Atau bisa pula dengan lafaz yang lebih pendek:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً
Latin: Labbaika Allāhumma 'umratan.
Artinya: "Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berumroh."
"Allāhumma mahillī haitsu habastanī"
Artinya: "Ya Allah, tempat tahallul-ku di mana saja Engkau menahanku."
Dengan mengucapkan ini, jika terhalang menyelesaikan umroh, boleh bertahallul tanpa kewajiban membayar dam.
Larangan ihram yang wajib diketahui
Setelah niat diucapkan, berlaku larangan-larangan berikut hingga tahallul dilakukan:
| Larangan | Berlaku untuk | Konsekuensi jika dilanggar |
|---|---|---|
| Memakai wewangian | Pria & wanita | Dam (fidyah) |
| Memotong rambut atau kuku | Pria & wanita | Dam (fidyah) |
| Berhubungan suami-istri | Pria & wanita | Dam besar — bisa merusak umroh |
| Memakai pakaian berjahit | Pria | Dam (fidyah) |
| Menutup kepala | Pria | Dam (fidyah) |
| Menutup wajah dengan cadar | Wanita | Dam (fidyah) |
| Melamar atau menikah | Pria & wanita | Akad tidak sah |
| Memburu binatang darat | Pria & wanita | Dam |
Talbiyah — bacaan wajib setelah niat
Setelah niat, perbanyak membaca talbiyah selama dalam perjalanan menuju Masjidil Haram, hingga tiba di depan Ka'bah dan hendak memulai tawaf:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ
إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ
Latin: Labbaika Allāhumma labbaik, labbaika lā syarīka laka labbaik. Innal hamda wan-ni'mata laka wal-mulk, lā syarīka lak.
Artinya: "Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi. Aku penuhi, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu."
4. Tawaf — mengelilingi Ka'bah 7 putaran
Tawaf adalah inti dari ibadah umroh. Mengelilingi Ka'bah tujuh kali berlawanan arah jarum jam adalah bentuk penghambaan total — seluruh tubuh bergerak mengelilingi rumah Allah.
Syarat sah tawaf
- Suci dari hadats besar dan kecil — wudhu wajib sebelum tawaf
- Menutup aurat
- Ka'bah berada di sebelah kiri jamaah sepanjang tawaf
- Dimulai dari garis sejajar Hajar Aswad
- Tujuh putaran penuh tanpa terputus
- Dilakukan di dalam Masjidil Haram (di luar Hijr Ismail)
Tata cara tawaf langkah demi langkah
"Allāhummaftah lī abwāba rahmatik."
"Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu."
Saat pertama kali melihat Ka'bah, berhenti sejenak, angkat tangan, dan panjatkan doa — ini adalah momen yang sangat mustajab. Tidak ada doa yang diwajibkan, ucapkan doa terdalam dari hati Anda.
Sebelum mulai tawaf, pria membuka bahu kanan dengan cara menaruh bagian tengah kain rida' di bawah ketiak kanan, lalu ujung kain diletakkan di atas bahu kiri. Ini dilakukan untuk seluruh tujuh putaran tawaf, lalu kain dikembalikan seperti semula setelah tawaf selesai.
Posisikan diri sejajar dengan Hajar Aswad. Jika bisa menyentuh dan menciumnya, lakukan. Jika tidak bisa karena keramaian, cukup hadapkan telapak tangan ke arah Hajar Aswad dan ucapkan:
"Bismillāhi Allāhu akbar."
Ini dihitung sebagai istilam (penghormatan) yang sah. Lakukan istilam ini di setiap awal putaran.
Pria disunnahkan berjalan cepat (raml) — bukan berlari — dengan mengangkat dada dan langkah pendek-pendek pada putaran 1, 2, dan 3. Putaran 4 sampai 7 berjalan normal. Raml tidak wajib bagi wanita.
Hijr Ismail (dinding setengah lingkaran di sisi Ka'bah) adalah bagian dari Ka'bah. Wajib dilewati dari luar — jika jamaah berjalan di dalam Hijr Ismail, putaran itu tidak dihitung dan harus diulang.
Setiap kali melewati Rukun Yamani (sudut Ka'bah sebelum Hajar Aswad), disunnahkan menyentuhnya dengan tangan kanan sambil mengucapkan: "Allāhu akbar." Jika tidak bisa menyentuh, lewati saja tanpa menghadapkan tangan — berbeda dari istilam di Hajar Aswad.
Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, baca doa:
"Rabbanā ātinā fid-dunyā hasanah, wa fil-ākhirati hasanah, wa qinā 'adzāban-nār."
Setelah 7 putaran selesai, menuju Maqam Ibrahim dan shalat 2 rakaat di belakangnya. Rakaat pertama membaca Al-Kafirun, rakaat kedua Al-Ikhlas. Jika terlalu ramai, shalat boleh dilakukan di bagian mana pun di dalam Masjidil Haram.
Setelah shalat, disunnahkan minum air zamzam dan menyiramkan sebagian ke kepala.
5. Sa'i — antara Shafa dan Marwah 7 kali
Sa'i mengenang perjuangan Siti Hajar yang berlari-lari mencari air untuk putranya, Nabi Ismail 'alaihissalam. Setiap langkah sa'i adalah pengingat bahwa ikhtiar manusia — sekecil apapun — akan dibalas oleh Allah dengan pertolongan yang tak terduga.
Syarat sah sa'i
- Dilakukan setelah tawaf yang sah
- Dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah
- Tujuh kali perjalanan (Shafa ke Marwah = 1, Marwah ke Shafa = 2, dst. — berakhir di Marwah)
- Melewati seluruh jarak antara Shafa dan Marwah tanpa terputus per putaran
Tata cara sa'i langkah demi langkah
Saat mendekati Shafa, baca:
"Innas-Shafā wal-Marwata min sya'āirillāh." (QS. Al-Baqarah: 158)
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah."
Bacaan ini dibaca sekali saja di putaran pertama, tidak perlu diulang di putaran berikutnya.
Angkat tangan, hadap Ka'bah, dan baca doa berikut sebanyak 3 kali diselingi doa pribadi:
"Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wahdahū lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alā kulli syai'in qadīr. Lā ilāha illallāhu wahdah, anjaza wa'dah, wa nasara 'abdah, wa hazamal ahzāba wahdah."
Di antara pengulangan, panjatkan doa pribadi — ini adalah salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa.
Berjalan biasa dari Shafa menuju Marwah. Di antara dua lampu hijau (zona khusus), pria disunnahkan berlari-lari kecil (harwala). Wanita cukup berjalan biasa. Perbanyak doa dan dzikir sepanjang perjalanan.
Tiba di Marwah, hadap Ka'bah (jika memungkinkan), angkat tangan, dan baca doa yang sama seperti di Shafa. Ini menyelesaikan satu putaran (Shafa ke Marwah = 1 putaran).
Hitungan sa'i: Shafa→Marwah (1), Marwah→Shafa (2), Shafa→Marwah (3), Marwah→Shafa (4), Shafa→Marwah (5), Marwah→Shafa (6), Shafa→Marwah (7). Sa'i berakhir di Marwah.
6. Tahallul — mengakhiri ihram
Tahallul adalah rukun terakhir umroh. Dengan tahallul, seluruh larangan ihram gugur dan umroh dinyatakan selesai.
Ketentuan tahallul
| Pria | Wanita | |
|---|---|---|
| Yang lebih utama (afdal) | Mencukur seluruh kepala hingga gundul (halq) | Memotong rambut sepanjang satu ruas jari dari seluruh bagian kepala |
| Yang diperbolehkan | Memotong rambut minimal sepanjang satu ruas jari dari seluruh bagian kepala (taqsir) | Sama — memotong dari semua bagian kepala, minimal satu ruas jari |
| Tempat | Di mana saja setelah selesai sa'i | Di mana saja — bisa di kamar hotel dengan menggunakan gunting pribadi |
Doa setelah tahallul
Tidak ada doa khusus yang diwajibkan setelah tahallul. Namun sangat dianjurkan untuk memperbanyak syukur dan doa pribadi — karena pada titik ini umroh telah selesai dan ini adalah momen yang tepat untuk memohon segala hajat.
7. Yang dilakukan setelah umroh selesai
Umroh yang selesai bukan berarti ibadah di Tanah Suci berakhir. Berikut hal-hal yang sangat dianjurkan setelah tahallul:
- Perbanyak shalat di Masjidil Haram — satu shalat di Masjidil Haram setara dengan 100.000 shalat di tempat lain.
- Minum air zamzam sebanyak-banyaknya — disertai niat yang tulus. Rasulullah ﷺ bersabda: "Air zamzam itu tergantung untuk apa ia diminum." (HR. Ibnu Majah)
- Ziarah ke tempat-tempat bersejarah — Jabal Nur, Jabal Tsur, sumur zamzam, dan tempat-tempat bersejarah lainnya di Makkah.
- Perbanyak doa di Multazam — dinding Ka'bah antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Ini adalah salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa.
- Jaga akhlak dan perbuatan — umroh yang mabrur ditandai dengan perubahan positif setelah kembali, bukan hanya saat di Tanah Suci.
Memahami tata cara umroh dengan benar adalah bentuk penghormatan kepada Allah atas undangan-Nya. Setiap rukun memiliki hikmah yang dalam — ihram mengajarkan kesetaraan, tawaf mengajarkan kesetiaan, sa'i mengajarkan ikhtiar, dan tahallul mengajarkan bahwa setiap beban pasti ada akhirnya.
Semoga Allah memberi kesempatan kepada kita semua untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah dan menerima umroh kita sebagai ibadah yang mabrur.

Posting Komentar